TIPS PENGECATAN DINDING

Tips Pengecatan Permukaan Tembok (Tembok Plesteran Semen/Beton)

A. Persiapan
Hasil pengecatan sangat tergantung dari persiapan permukaan yang akan dicat. Persiapan yang
benar akan membuat pekerjaan pengecatan lebih cepat dan mudah, memberikan hasil akhir yang
terbaik dan lapisan catnya lebih tahan lama.

1. Permukaan tembok baru
– Reaksi pengerasan (curing) semen pada plesteran/beton harus sudah sempurna minimal
harus ditunggu selama 28 hari.
– Periksa kelembaban tembok.
Gunakan alat protimeter, yaitu alat pengukur kadar air. Kadar air harus sudah dibawah
11 %
– Periksa kadar alkali tembok
Gunakan kertas lakmus untuk mengukur pH (derajat keasaman alkali). Kadar alkali
harus menunjukkan pH ± 8. Kalau lebih dari pH 8, berarti reaksi semen belum sempurna
dan tembok belum layak dicat. Kalau kadar air sudah rendah, tapi kadar alkali masih
tinggi, berarti masih ada semen bebas yang belum bereaksi karena kekurangan air.
Basahkan permukaan temok dengan air bersih.
– Bila semua persyaratan di atas sudah terpenuhi bersihkan permukaan dari bekas
percikan semen, efflorescence (pengkristalan garam), pengapuran, debu, kotoran,
minyak, dll.
– Gosok permukaan tembok dengan kertas amplas kasar atau sikat sambil permukaan
tembok dibasahi air bersih. Kemudian keringkan dengan lap yang bersih.
– Cuci permukaan tembok dengan larutan asam chlorida (HCl) 10-15% untuk
menetralkan alkali yang masih ada dan juga mengetching permukaan tembok agar lebih
kasar sehingga daya lekat lebih baik.
– Bila permukaan tembok berlumut atau berjamur, cuci dengan larutan kaporit 10-15%

2. Permukaan lama yang pernah di cat
– Bila daya lekat cat lama masih baik, cuci permukaan dengan air bersih sambil digosok
dengan kertas amplas/sikat. Bila perlu cuci dengan larutan detergent, kemudian dibilas
dengan air bersih.
– Bila permukaan cat lama masih baik daya lekatnya, tetapi berlumut/berjemur, cuci
dengan larutan kaporit sambil disikat, bilas dengan air bersih.
– Bila terjadi pengapuran, amplas atau bersihkan debu-debu pengapuran dengan lap yang
dibasahi air sampai kelapisan cat yang tidak mengapur.
– Bila lapisan cat lama sudah tebal atau terkelupas, kerok seluruhnya sampai ke dasar
tembok.
– Bila lapisan cat lama berasal dari cat kualitas rendah dimana mudah larut dengan air,
sebaiknya dikerok seluruhnya sampai ke dasar tembok.

B. Pemberian Cat Dasar
1. Cat dasar untuk tembok dibagi dua :
– Cat dasar yang berupa varnish dasar air yaitu cat tanpa pigmen dengan dasar emulsi
acrylic 100%. Cat dasar ini biasanya disebut Wall Sealer Water Base. Wall Sealer
sangat baik untuk tembok baru yang banyak retak rambut untuk mengisi celah-celahnya
dan untuk menguatkan lapisan cat lama yang mulai mengapur.
– Cat dasar yang berupa cat tembok warna putih dengan dasar emulsi acrylic 100% dan
mempunyai daya tahan alkali yang tinggi, daya lekat serta daya isi yang baik serta kadar
bahan anti jamur cukup tinggi. Cat dasar ini disebut Alkali Resisting Primer atau
Undercoat Tembok.
2. Cara Pemakaian
– Encerkan cat sesuai dengan petunjuk pabrik, jangan berlebihan, karena dapat
menghilangkan fungsi cat dasar.
– Beri 1 atau 2 lapisan cat dasar.
– Khususnya untuk Water Proofing Sealer antara setiap lapis harus dibiarkan selama 1
hari.

C. Pemberian Cat Akhir
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pengecatan akhir:
– Persiapan permukaan harus telah sempurna
– Bagian-bagian tembok yang tidak akan dicat, alat-alat rumah tangga seperti kuri, meja,
lantai sudah ditutup plastic atau kertas Koran.
– Siapkan alat-alat pengecatan yang dibutuhkan, seperti kuas, roller, ember, pengaduk,
tangga, dll.
– Tukang cat berpengalaman.
– Periksa kaleng cat, apakah sesuai dengan ketentuan pabrik. Catat nomor batch (lot) nya.
– Aduk cat sampai rata dan pengeceran sesuai dengan ketentuan pabrik.
– Selang waktu antara setiap lapis harus cukup lama.
Secara teoritis adalah 2-4 jam, tetapi sebaiknya minimal 8 jam atau semalam.
– Ventilasi ruangan harus sebaik mungkin dan kalau dapat pengecatan dilakukan waktu
cuaca terang dan kering
– Pengenceran cat jangan langsung di dalam kalengnya. Kecuali kalau dapat habis pada
saat itu juga. Tutup rapat-rapat kaleng yang masih ada sisa catnya untuk menghindari
pembusukan.

KEGAGALAN PENGECATAN
Cat yang bermutu tinggi mengandung bahan-bahan baku pilihan dan berasal dari produsenprodusen
yang terkenal di seluruh dunia. Selain itu produk-produknya sebelum dipasarkan telah
mengalami penelitian dan pengujian yang seksama. Dengan demikian jarang sekali terjadi
kesalahan yang diakibatkan oleh catnya sendiri.
Apabila cara pengecatan serta persyaratan permukaan yang akan dicat sesuai dengan
petunjuk-petunjuk yang diberikan, maka kesulitan-kesulitan serta kegagalan dalam pengecatan
tidak akan terjadi.

A. BLISTERING (menggelembung)
Sebab-sebabnya :
Cat bermutu tinggi mempunyai lapisan cat yang rapat dan plastis, sehingga air atau solvent
yang tertahan dibawahnya dapat mengakibatkan menggelembungnya lapisan cat tersebut.
Pengecatan pada permukaan yang basah akan mengakibatkan berkurangnya daya lekas
lapisan cat, sehingga kemungkinan terjadi gelembung-gelembung akan lebih besar. Solvent
dapat bertahan dibawah lapisan cat bila pengecatan dilakukan sekaligus tebal dan langsung
terkena sinar matahari. Lapisan cat paling atas akan mongering leibh cepat, sedangkan
lapisan bawahnya masih mengandung banyak solvent yang akan menguap. Uap solvent
tersebut akan terjebak di bawah lapisan yang telah kering dan mendesak lapisan tersebut
sehingga terjadi gelembung.
Pencegahannya :
1. Permukaan yang baru dicuci dengan air atau kena air hujan biarkan kering sempurna.
2. Selang waktu antara setiap lapisan cat cukup lama atau minimal sesuai dengan data
teknis. Setiap lapisan cat diusahakan setipis mungkin agar pengeringan lebih sempurna.
3. Hindarkan pengecatan waktu cuaca buruk (hujan, mendung atau lembab) atau pada
permukaan yang lama terkena sinar matahari.
Perbaikan :
Bila banyak gelembung-gelembung yang terjadi, maka lapisan kaca dikerok seluruhnya.
Bersihkan permukaan, kemudian berilah lapisan cat dasar bilamana diperlukan sebelum
dilapisi cat akhir. Kalau gelembung-gelembung yang terjadi hanya sedikit, maka perbaikan
hanya pada bagian yang menggelembung saja.

B. FLAKING (mengelupas)
Sebab-sebabnya :
1. Jenis cat yang digunakan bersifat makin lama makin keras, sehingga tidak dapat
mengikuti pergerakan permukaan yang dicat seperti kayu.
2. Pengecatan dilakukan di atas lapisan cat lama yang sudah mengapur, sehingga daya
lekat cat kurang.
3. Pengecatan pada permukaan kotor dan berminyak.
4. Menggunakan dempul berkualitas rendah, sehingga daya lekatnya tidak ada dan
akibatnya bila diberi lapisan cat akhir maka lapisan dempul terangkat.
5. Pengecatan pada lapisan cat lama yang bermutu rendah dimana daya lekatnya berkurang
sekali, sehingga bila diberi lapisan cat akhir yang bermutu tinggi, maka lapisan lama
tertarik dan terkelupas.
6. Cat dasar yang digunakan tidak cocok dengan system pengecatan lapisan akhir.
Pencegahan :
1. Permukaan yang akan dicat harus bersih dan kering
2. Kerok lapisan cat lama yang sudah rusak atau bermutu rendah.
3. Hindarkan pemakaian dempul pada seluruh permukaan terutama untuk exterior.
4. Gunakan cat dasar yang dianjurkan untuk system pengecatan yang digunakan.
Perbaikan :
Lapisan cat yang terkelupas harus dikerok sampai ke dasar permukaan, kemudian bersihkan
permukaan. Bilamana diperlukan beri lapisan cat dasar sebelum dilapisi cat akhir.

C. DISCOLORATION (perubahan warna)
Sebab-sebabnya :
Bahan perekat dari lapisan cat dapat dirusak oleh garam-garam atau bahan-bahan kimia lain
yang berasal dari dalam permukaan yang dicat atau dari udara.
Demikian pula pigmen (pewarna) dapat diserang oleh bahan-bahan kimia atau sinar
matahari.
Pencegahan :
Memilih jenis cat dan warna harus disesuaikan dengan kondisi yang dibutuhkan
Perbaikan :
Bila penyebab perubahan warna telah diketahui, maka dapat dilakukan pengecatan ulang
denga jenis cat yang sesuai.

D. EFFLORESENCE (pengkristalan)
Sebab-sebabnya :
Effloresence terjadi pada permukaan dari plesteran semen, dimana garam-garam bersifat
alkali terbawa ke permukaan. Bila kristal-kristal garam tersebut berada dibawah lapisan cat
dan dibantu kelembaban tembok akan merusak lapisan cat tersebut.
Pencegahan :
Pengecatan dilakukan setelah tembok dari plesteran atau beton telah kering sempurna,
dimana kadar alkali dan air telah memenuhi syarat yang ditentukan. Gunakan lapisan cat
dasar yang tahan alkali dan tidak dianjurkan menggunakan dempul tembok. Permukaan
yang mengandung kristal-kristal garam harus dibersihkan terlebih dahulu dengan kain
bawah dan kering sampai tidak keluar lagi.
Perbaikan :
Kalau pengkristalan belum merusak lapisan cat, maka bersihkan garam-garam tersebut
dengan kain basah dan kering. Amplas permukaan cat agar lebih porous, sehingga air dan
garam-garam mudah keluar. Setelah pengkristalan tidak terjadi lagi, lakukan pengecatan
ulang. Bila lapisan catnya telah dirusak oleh alkali, maka harus dikerok habis sampai ke
dasar permukaan. Bersihkan permukaan sampai efforesence tidak terjadi lagi. Lakukan
pengecatan dari awal lagi.

E. WATERSPOT (bercak-bercak seperti basah)
Sebab-sebabnya :
Penyebabnya hampir sama dengan Blistering (menggelembung), tetapi lapisan catnya telah
melekat dengan baik, sehingga air atau solvent yang berada di bawah lapisan catnya
memberi kesan basah pada permukaan cat. Hal lain dapat disebabkan dengan digunakannya
dempul yang mengandung bahan pelunak (plasticier) dimana lapisannya tidak ditunggu
kering sempurna sehingga bahan pelunak yang tertinggal akan migrasi (naik ke atas) dan
tertahan di bawah lapisan cat dan menyebabkan lapisan cat seakan-akan basah.
Pencegahan :
1. Sama seperti Blistering
2. Tidak dianjurkan menggunakan dempul untuk meratakan permukaan tembok.
Perbaikan :
Amplas permukaan lapisan cat agar porous, sehingga air, solvent atau bahan pelunak dapat
dengan mudah menguap keluar.
Bila jamur telah tumbuh pada bagian-bagian yang basah tersebut, cuci dengan larutan
kaporit, kemudian dilap dengan kain bawah untuk menghilangkan sisa-sisa kaporit. Bila
diperlukan beri 1 lapisan Wall Sealer yang sesuai sebelum diberi lapisan cat akhir.

F. BITTNESS (berbintik)
Sebab-sebabnya :
1. Debu atau kotoran dari udara, kuas atau rol yang kurang bersih, atau alat penyemprot
yang melekat pada permukaan cat.
2. Teknik pengecatan dengan alat penyemprot tidak benar sehingga debu cat yang kering
menempel pada lapisan cat yang masih bawah.
3. Waktu mengaduk cat di dalam kaleng, lapisan kering pada permukaan tercampur.
Pencegahan :
1. Bersihkan alat-alat pengecatan dengan baik sebelum dan sesudah dipakai
2. Aduklah cat hati-hati dan kalau perlu disaring terlebih dahulu setelah dilakukan
pengeceran.
Perbaikan :
Biarkan lapisan mongering dan mengeras sempurna. Gosok permukaan yang berbintik
dengan kertas amplas halus. Setelah dibersihkan debu-debunya, ulangi pengecatan.

G. DRYING TROUBLES (sukar mengering)
Sebab-sebabnya :
1. Pengecatan dilakukan dalam cuaca yang kurang baik seperti suhu rendah, berkabut dan
lembab.
2. Pengecatan di atas permukaan mengandung lilin seperti bahan untuk poles, minyak atau
debu.
3. Pengecatan alkyd gloss enamel pada permukaan kayu yang pernah diberi lapisan Politur
dari bahan Shellac.
4. Pengencer yang digunakan tidak sesuai.
Pencegahan :
1. Lakukan pengecatan waktu ada sinar matahari atau cuaca kering.
2. Permukaan yang akan dicat harus bersih.
3. Gunakan pengencer yang sesuai
4. Kayu yang telah diberi Politur dari bahan Shellac harus dibersihkan dari lapisan cat
tersebut.
Perbaikan :
Lapisan cat harus dikerok sampai bersih. Kemudian ulangi pengecatan dari awal.

H. SAPONIFICATION (penyabunan)
Sebab-sebabnya :
Serangan alkali pada lapisan cat yang bahan perekatnya mengandung minyak seperti alkyd
gloss enamel.
Alkali dan minyak akan berekasi secara kimiawi yang disebut penyabunan di mana
memberikan hasil akhir seperti sabun dan menyebabkan lapisan cat menjadi lunak dan
terbentuk gumpalan yang lengket.
Pencegahan :
Permukaan yang akan dicat harus bebas alkali. Tidak dianjurkan tembok dari plesteran
semen atau beton yang baru dicat denga cat dasar alkyd, tetapi sebaiknya denga cat acrylic
dasar air atau jenis lain yang tidak mengandung minyak.
Perbaikan :
Keroklah seluruh lapisan cat dan kemudian permukaan harus dibersihkan sesempurna
mungkin. Gunakan jenis cat lain seperti cat acrylic dasar air.

I. SAGGING (lapisan cat menurun pada beberapa tempat)
Sebab-sebabnya :
Umumnya disebabkan pengecatan yang tidak merata.
Pencegahan :
Lakukan pengecatan dengan ketebalan yang merata dan selang waktu antara setiap lapis
cukup lama. Sebaiknya pengecatan tidak dilakukan secara langsung tebal, usahakan setiap
lapis tipis-tipis saja.
Perbaikan :
Biarkan lapisan cat mongering sempurna. Ratakan bagian-bagian yang menurun dengan
kertas amplas, kemudian lakukan pengecatan ulang.

J. BRUSHMARKS (garis-garis bekas kuas)
Sebab-sebabnya :
1. Cat tidak mengalir rata setelah dilapiskan karena teknik pengecatan yang tidak benar
seperti pelapisan cat yang tidak teliti, pengenceran yang kurang dan kuas dijalankan
terus pada saat lapisan cat mulai mengering.
2. Menggunakan kuas yang kotor atau bulu-bulunya telah menggumpal.
Pencegahan :
1. Lakukan pengenceran yang benar dan gunakan pengencer yang sesuai.
2. Lapiskan cat dengan cepat tapi merata. Jangan melapis ulang pada lapisan cat yang
mulai mengering.
3. Pakai kuas bermutu baik dan bersih
Perbaikan :
Setelah cat kering sempurna, gosoklah dengan kertas amplas dan kemudian ulangi
pengecatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WhatsApp us